Sabtu, 24 November 2007
Rabu, 21 November 2007
Seni Tidak Hanya Berfungsi Untuk Tujuan Yang Luhur 2
JIL: Lalu perlukah ekspresi seni itu dianggap kebablasan dan tidak kebablasan oleh agama atau norma tertentu?
Kebablasan dan tidak kebablasan itu selalu menurut pandangan tertentu. Menurut persepsi ini kebablasan, tapi menurut persepsi itu belum tentu kebablasan. Jadi itu sangat terkait dengan perbedaan pemaknaan dari orang ke orang, individu per individu, kelompok per kelompok. Artinya tidak hitam-putih; tidak tajam.
Misalnya soal hukum membuat patung tiga dimensi di dalam Islam. Ayatnya memang melarang. Dan yang menarik justru adanya ayat itu. Tapi dalam praktek, ayat itu tidak selalu bisa berjalan. Seorang kyai yang teman saya di Lombok pernah mengatakan begini: ”Kyai sekarang, kalau pergi kemana-mana, misalnya ke luar
Itu artinya, bagaimana mendefinisikan larangan seni tiga dimensi yang berbentuk patung berwujud manusia itu? Kadang, sadar atau tidak, kita melakukan itu juga. Tapi yang perlu juga dipahami, di sini yang dilarang bukan wujud patungnya itu sendiri, bukan pula masalah tiga dimensinya. Tapi bagaimana kita menyikapi itu. Yang dilarang adalah ketika patung ini jadi sesembahan. Intinya, menurut saya yang diharamkan agama itu adalah agar kita tidak menduakan Tuhan.
JIL: Tapi dalam sejarah seni dan kebudayaan Islam, larangan pembuatan patung tiga dimensi itu memang telah membuat seni patung tidak berkembang di dunia Islam. Namun kemudian tetap muncul substitusinya dalam bentuk arsitektur, arabes, seni menulis indah atau kaligrafi, dan lain-lain. Jadi sebetulnya, ekspresi seni itu memang tidak terbatas, ya?
Itu betul. Ketika ada kekangan seperti air yang dibendung, dia akan mengalir ke aliran lainnya yang memungkinkan. Umpamanya, larangan seni patung diganti dengan seni kaligrafi. Dan kita tahu, paling tidak, ada tiga jenis kaligrafi yang paling menonjol di dunia ini: kaligrafi Islam, Cina, dan Jepang. Tapi di Islam, memang yang paling menonjol seni berbentuk geometris; hiasan-hiasan ruwet yang umumnya tidak menghasilkan bentuk makhluk hidup.
Tapi, kalau kita melihat kaligrafi-kaligrafi Islam, tetap saja ada yang berbentuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Kaligrafi-kaligrafi Islam dari Turki dan
Kalau kita mengerti bahasanya, dalam lagu-lagu Arab kadang kita memang menemukan lirik-lirik cinta. Tapi di sini itu justru disanjung-sanjung, dipuja-puja, seolah-olah menjadi iconkok yang beginian dianggap relegius, padahal isinya tidak relegius?! musik agama. Soalnya saya kira, memang antara teks dan nuansa bunyi itu berbeda. Sehingga ketika seseorang menyanyikan sesuatu, apalagi kalau ia tidak tahu bahasanya, ia bisa menginterpretasikannya dengan caranya sendiri. Nah, yang ironis adalah ketika ada orang yang paham isinya;
Ini sangat menarik dan fenomena ini sangat umum di kita. Memang, masyarakatlah yang membuat nada-nada gurun pasir itu religius dan terus diasosiasikan dengan relegiusitas Islam. Apapun yang datang dari Timur Tengah dianggap relegius. Mungkin contoh yang baik untuk soal ini adalah fenomena musik gambus. Dari penelusuran sejarah, musik gambus itu mungkin termasuk musik tertua yang pernah ada. Gambar alat-alatnya yang saya punya menunjukkan kalau ia sudah ada sejak abad ke-9 sebelum masehi, tepatnya dari zaman Mesir kuno.
Setelah lahirnya Islam, alat-alat musik itu diadopsi atau diambil. Musik gambusnya kemudian dibawa dan diperkenalkan ke tanah Arab, lalu diolah isinya dengan muatan nilai-nilai Islam. Kemudian, itu disebarkan lagi ke tanah
Katakanlah salah satu budaya yang cukup solid di Indonesia adalah budaya Jawa. Di Jawa, kita punya wayang. Kalau bicara soal wayang, asosiasi kita langsung akan tertuju ke Jawa. Padahal, kalau kita cermati betul, ceritanya berasal dari
JIL: Apakah seni harus selalu mengabdi untuk kepentingan-kepentingan yang dianggap luhur seperti agama?
Antara ”ya” dan ”tidak”. Kita perlu realistis juga dalam memandang kehidupan ini. Yang namanya kesenian itu terkadang memang diperuntukkan bagi kepuasan rohani. Tapi itu bukan satu-satunya tujuan seni. Bisa saja seni diperuntukkan sebagai alat mencari uang. Kesenian juga menjadi alat ekspresi estetika, ekspresi sosial politik, dan lain sebagainya. Banyak sekali tujuan masing-masing orang dalam berkesenian. Kesenian juga bisa jadi sarana berekspresi untuk mewujudkan keharmonisan antara diri kita dengan masyarakat. Misalnya seni berbentuk pesta sawah ketika panen madu, panen tebu, gula, dan lain sebagainya.
Karena itu setiap orang punya pemaknaan sendiri tentang agama dan hubungannya dengan kesenian. Agama
Ya. Kita bisa melihat sosok Slamet Gundono sebagai orang Islam jebolan pesantren, sekaligus seorang seniman yang hebat. Bagi dia, saya kira tidak ada batasan yang jelas antara keduanya. Dirinya itu satu; Slamet Gundono, ya Slamet Gundono. Ketika dia main musik, yang keluar adalah nuansa pesantren dan
Itu yang menarik dari Slamet Gundono. Dia pandai main musik, belajar kebudayaan Jawa, dan datang dari kalangan pesantren. Dia juga dalang. Artinya, dia telah belajar pakem-pakem dari dua dunia sekaligus, baik itu pakem pesantren maupun pakem kesenian. Menurut saya, pemahaman tentang pakem itulah yang lengkap diketahui Slamet. Pada dirinya, tidak ada pakem yang mengungkung seluruhnya, sehingga dengan pakem, dia tetap punya kebebasan.
Saya kira, orang hidup memang selalu berada di antara dua karang: ikut pakem, sekaligus ikut kebebasan. Persoalannya hanyalah seberapa batasan batasan antara pakem dan kebebasan berekspresi itu ada pada dirinya.
JIL: Apa komentar Anda soal seni perfilman kita yang saat ini cukup vulgar dalam menyampaikan pesan-pesan agama, seperti dalam sinetron-sinetron mistis itu?
Dunia kesenian, khususnya dunia film, juga tidak bisa lepas dari dunia pasar atau publiknya. Yang membentuknya seperti itu tidak hanya seniman, tapi juga kemauan dan selera publik. Andaikata publik kita tidak ada yang suka melihat hal seperti itu, akan mati itu film atau sinetron. Disinilah terlihat jelas bahwa kesenian itu juga punya fungsi ekonomi. Sehingga yang dibidik-bidik adalah selera banyak orang. Apakah seniman seperti itu merasa punya dilema?
Mungkin pada dirinya sudah ada pemilahan. Saya mengerjakan ini untuk uang, yang lain untuk ibadah, yang lain lagi untuk ekspresi seni murni. Jadi kalau orang melakukan sesuatu dengan corak tertentu pada suatu saat, ia tidak mesti akan begitu pada saat yang lain. Ini memang ironis dan dilematis. Publik kita kok begini?! Yang dibikin senimannya kok gitu-gitu aja?! Ini memang jadi keprihatinan banyak orang.
JIL: Anda punya usul tentang cara menjaga independensi antara dogma agama dan kehidupan seni?
Saya kira, teologi, dogma, dan seni budaya, telah punya cara pandang yang terpisah-pisah dan tidak perlu dicampur-aduk. Kita akan sulit melihat kesenian kalau hanya dari sisi teologisnya saja. Akan sulit juga ketika kita melihat budaya hanya dari sudut pandang dogma agama. Yang sulit memang jika rumusan ”kalau hanya” yang diterapkan. Tapi, dalam beberapa hal, kita juga terkadang menjadikan teologi, dogma, dan budaya, menyatu di dalam batin kita. Dan itu terkadang saling terkait. Ketika kita memandang sesuatu dengan satu sudut pandang saja, kita akhirnya tidak bisa terbebas.
Tapi memang yang repot adalah kalau kita ekstrem; memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja. Itu yang nggak nyambung. Cara pandang agama terhadap seni itu terkadang sama dengan cara pandang kita terhadap budaya. Kita tidak bisa melihatnya hanya dari sisi ekonomi saja. Sebab fungsi kebudayaan juga bermacam-macam.
Jadi yang penting adalah seberapa jauh kita tidak memandangnya hanya dari satu sudut saja. Kita juga tidak boleh mengharuskan memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Mengharuskan dan menjangankan, juga sesuatu yang akan menyulitkan, terutama kalau kita berpandangan absolut. Karena itu, baik anjuran maupun larangan, keduanya harus juga ada batasnya, dan tidak boleh berlaku secara mutlak. Kuncinya: antara satu dan lain sudut pandang, ada keterkaitan. Bentuk keterkaitan itu bisa tebal dan bisa pula tipis.
Itulah yang dalam istilah saya disebut kompleksitas. Jadi seni itu harus dilihat dari sudut pandang yang kompleks. Sebab, masalah kehidupan sendiri sangat komplek. Kalau kita hanya memadangnya dari satu sisi, itu artinya kita menjadi orang yang simplistis atau menyederhanakan persoalan. Ini yang sering-sering bikin tidak nyambung.
Nah, kalau kita kaitkan antara norma agama dan kesenian dengan sudut pandang kompleksitas, saya kira hasilnya adalah mencari keseimbangan yang merupakan salah satu prinsip kehidupan. Nah, dalam banyak ajaran tentang kearifan hidup, kita memang telah dianjurkan untuk hidup seimbang. Jangan hanya mengikut satu arahan saja. Nah, mencari titik keseimbangan itulah yang cukup kompleks. Artinya, selalu ada kaitan antara satu hal dengan hal lainnya di mana kita berada.
Misalnya, bagaimana mengusahakan produk seni agar menjadi uang. Kesenian dan seorang seniman itu
Jadi kalau pun kesenian punya fungsi ekonomi, fungsi kesenian tetap bukan hanya untuk ekonomi. Kesenian juga tidak semata untuk kepuasan ekspresif. Saya pernah membuktikan ketidakbenaran anggapan itu. Saat itu, saya bicara dengan seorang pelukis terkenal: ”Anda sudah puas mengekspresikan bakat estetis Anda dengan karya Anda ini. Kalau begitu, kasikan saya saja!” Tentu dia ogah dan justru akan menjualnya dengan harga yang mahal. Jadi, saya kira kuncinya adalah keseimbangan. Sama halnya dengan perlunya otak kanan dan otak kiri.
JIL: Bagaimana penerapan teori keseimbangan itu dalam menilai produk seni seperti jaipongan yang mungkin dianggap nista oleh agama?
Bagaimana dengan jaipongan yang aurat penarinya tertutup, tapi gerakannya menimbulkan gairah seksual? Menurut banyak orang, gairah seksual itu adalah indah. Kalau kita jujur, saya akan bilang, iya juga. Malah banyak sekali orang-orang yang gairahnya sudah tidak keluar, lalu terpaksa mencari obat. Dilihat dari sisi itu, ia bisa menjadi suatu anugrah.
Tapi saya kira, bukan itu intinya. Istilah porno atau seronok itu tidak hanya terkait dengan apa yang tampak, seperti nuansa ataupun kedipan mata yang menggairahkan. Sehingga untuk mengukur sesuatu itu nista, kita tidak boleh hanya melihatnya dari sisi agama saja. Saya ingat, seorang kyai dari Tegal pernah bilang kalau dia sangat bergairah melihat qariah yang melantunkan ayat suci Alqur’an, meski auratnya sangat tertutup. Tapi itu dia katakan untuk menjelaskan bahwa yang penting disucikan itu bukan objeknya, tapi yang paling utama adalah mata kita, hati kita, dan kepala kita. Dengan begitu, merangsang atau tidaknya sesuatu itu sangat tergantung pada iman kita.
Ya. Mungkin saja karena masyarakat penikmat seninya yang tidak kondusif, nggak mendorong. Mungkin ekstremnya juga karena banyak yang melarang-larang. Itu yang menarik kalau kita melihat perkembangan seni di
JIL: Apakah budaya pop yang begitu massif saat ini berpotensi menggerus ekspresi seni lokal?
Saya kira, di Barat pun kini telah banyak orang yang tidak suka budaya popular. Di Amerika atau di mana-mana, banyak orang yang lebih suka kesenian klasik dan budaya lama. Pop-pop zaman sekarang tidak digandrungi lagi. Jadi pop itu juga tidak identik Barat, walaupun asal dan pengaruh budaya pop Barat kini sangat kuat di dunia. Mungkin itu juga terkait dengan perkembangan teknologi informasi dan multimedia. Di masa lalu, saya kira tidak akan lahir kesenian yang sangat popular seperti sekarang. Tapi karena ada berbagai macam media, semua itu kini dimungkinkan.
Selasa, 20 November 2007
Seni Tidak Hanya Berfungsi Untuk Tujuan Yang Luhur
Endo SuhandaKeluasan dan kompleksitas ekspresi seni tidak semestinya dihukumi dan dinilai dengan satu sisi sudut pandang saja.Sudut padang agama saja, misalnya tidaklah memadai untuk menentukan hitam - putihnya nilai kesenian. Mengapa demikian.? Berikut paparan "Endo Suanda" pakar etnomusikologi, tentang hubungan agama dan kesenian kepada jaringan islam liberal (JIL).
JIL : Masa Endo Kita tau ekspresi seni itu sudah berumur setua peradaban manusia sendiri. Pertanyaannya : mungkinkah manusia melepaskan diri dari kesenian misalnya dengan larangan-larangan agama.?
Mungkin dan tidak mungkin bagi orang per orang dari sekian milyar orang, tapi sangat tidak mungkin untuk semua orang, Tapi agama selalu menghalangi - halangi kesenian ataukah antara agama dan kesenian saling membantu.?kalau kita melihat sejarah kita akan tau bahwakesenian juga punya banyak peran didalam agama.Hampir tidak ada agama yang tidak punya ekspresi seni, mulai tembangan,nadanya,mantranya sampai adzan dan Qira'at - Qira'atnya.
Sebaliknya juga terjadi adalah agama berperan didalam kesenian,saya kira ekspresi mendalam yang masuk ke batin seorang seniman itu juga tidak lepas dari unsur - unsur keagamaan. Makin ada kekuatan batin biasanya ekspresi seni seseorang juga akan makin kuat.Karena itu awal sejarahnya kesenian juga hampir tidak bisa lepas dari agama.Kalau anda mengatakan bahwa kesenian sudah lahir bersamaan dengan lahirnya manusia saya kira ia juga lahir seiring dengan adanya kepercayaan.
JIL : Hubungannya tentu tidak selamanya simbiosis mutualistis sebab kadang juga terjadi banyak ketegangan . seperti apa ketegangan itu terjadi.?
Saya kira tegangannya ada pada penentuan nilai.Orang yang beragama itu kan tidak bisa lepas dari lingkungan dan norma - norma masyarakat sendiri - sendiri. Tapi kita juga tau bahwa masyarakat diDunia ini amat beragam,dengan jutaan macam kultur. Karena itu ketika agama apapun diturunkan kepada sekelompok manusia,ia akan ditafsirkan,dimaknai sendiri - sendiri oleh orang - orang yang bersangkutan.Jadi suatu agama katakan Islam atau Katolik yang di Minangkabau akan berbeda dengan yang di Jawa pesisiran atau di Jawa pegunungan.
JIL :Beda ekspresi Seninya.?
Benar, Karena ia menyatu dengan kultur, budaya dan situasi manusia setempat. Nah kalau saya katakan beda - beda, itu bukan berarti tiada yang sama.Itu sama juga kalau kita bilang sama; tidak berarti tidak ada yang berbeda sama sekali.Jadi didalam persamaannya, baik kultur atau ekspresi budaya apapun, selalu terdapat perbedaan. Dan didalam perbedaan selalu terselip persaman.
JIL : Bisakah agama mematikan ekspresi seni tertentu dengan cara melarang atau menfatwa haram.?
Saya kira ruang lingkup ekspresi seni manusia itu tidak bisa dibendung, baik secara fisik maupun batin. Dibendung sekarang mungkin bedol besoknya.sebab semua lini kehidupan manusia itu kan berproes. Sekarang harus tiarap,Tiarap.!!!Sekarang harus diam.!!!Tapi manusia tidak ada yang bisa bungkam seluruhnya.Kuncinya disitu adalah proses.kultur keagamaan masyarakat Islam Minangkabau ditahun 1920-an sudah berbeda dengan masyarakat Minangkabau sekarang.ini juga akan berkaitan dengan tingkat mereka pada norma - norma dan hukum - hukum yang faktanya juga berkembang.
Karena itu jangan ekspresi kesenian produk hukum pun berkembang dan berubah - ubah.Hukum juga berkembang dari waktu ke waktu.Ganti kepala daerah pula peraturan daerahnya.itu salah satu contoh yang palin gampang.Tapi dalam proses kebudayaan ,kadang - kadang kita tidak bisa melihat perkembangan yang gamblang dari hari ke hari.Mungkin sekian tahun baru kelihatan timbul ini dan timbul ini.Tapi antara satu masa satu periode dengan periode lainnya akan selalu ada perbedaan.
Itu mungkin juga berhubungan dengan perkembangan teknologi kebudayaan. Zaman dulu warna yang cerah dan kontras mungkin tidak ada khususnya ketika orang hanya menumpahkan ekspresi seninya lewat warna - warna sintesis dan segala macamnya.Sehingga warna pun berubah - ubah.
Waduh Ma'ap Yaa Ceritanya bersambung lagi niih..!!!habis banyak catatan Artikelnya.
Senin, 19 November 2007
Kebudayaan Dan Tradisi
Kesenian UjunganMerupan seni permaianan ketangkasan yang dilakukan oleh 2 orang jawara. Mereka saling memukulkan ( menyabetkan ) tongkat rotan ke arah kaki, sambil diiringi oleh tabuhan sampiyong yang terdiri dari gambang dan totok ( kentongan bambu ). Disamping itu terdapat 2 orang beboto ( pemisah ) yang bertugas melerai jika kedua jawara saling bergumul. Sementara penonton disekelilingi membentuk kalangan ( arena ) dan sesekali bersorak riuh, bila ujung rotan mengena dan berhasil menjatuhkan lawan.
Seni Musik Gambus
Adalah seni yang bercirikan budaya Islam,karena jenis musik ini berasal dari Timur Tengah (Tanah Arab) . Pada jaman dulu musik gambus dimainkan untuk memeriahkan upacara perkawinan, khitanan, dan mengiringi Tari Japin. Lagu - lagu yang dibawakan biasanya lagi yang bernafaskan Islam atau lagu - lagu yang berisikan nasihat dan keagama'an.
Tari Topeng
Atau yang dikenal dengan topeng biasa, merupakan salah satu jenis kesenian Bekasi yang relatif masih tetap eksis dan banyak penggemarnya. Walaupun dinamakan Tarian Topeng, namun tidak didominasi oleh masyarakat kecil. Seperti halnya musik gambus, Tarian Topeng biasanya dimainkan untuk memeriahkan upacara perkawinan, khitanan dan kaulan.
Minggu, 18 November 2007
Dari Gambus Melahirkan Orkes Melayu Dan Dangdut
Dalam perkembangan ternyata diIndonesia gambus sangat diminati bukan saja oleh keturunan arab tapi masyarakat berbagai etnis.maka gambus pun menjadi musik pengiring pesta - pesta perkawinan,pesta - pesta perkawinan warga surabaya yang berpenghunikan didaerah Ampel tersebut emang mayoritas masyarakatnya orang arab dulu kurang afdol bila tidak menghadirkan hiburan musik gambus.Umunya para pemain gambus duduk bersila dipermadani yang sekaligus merupakan arena bagi para pemuda berzapin menari sambil berlompatan.
Dari situ gambus pernah menjadi musik paling bergengsi hingga menjelang tahun 1950.diRadio Republik Indonesia ( RRI ) sampai membuat siaran tetap musik gambus diantaranya musisi gambus yang paling kesohor adalah Syech Albar kelahiran surabaya 1908 yang juga penyanyi rock Achmad Albar.pada tahun 1935 rayuannya telah direkam dalam piringan hitam " His Masters Voice ".Suara dan petikan gambusnya bukan saja digemari diIndonesia tapi juga diTimur Tengah.
Jalan pintas yang dirintis Syech Albar ini diikuti oleh pemuda - pemuda keturunan Arab diberbagai tempat diIndonesia.Sejumlah OG pun bermunculan bukan hanya di Surabaya,Sidoarjo,Jakarta,Makasar,Palembang,Banjarmasin dan Gorontalo tapi jugapenduduk setempat.
Seperti dikampung kepuh kiriman waru sidoarjo pada 1999 Bapak aminullah adalah seorang pimpinan dari Al Amin sendiri satu ini barusan melangsungkan pernikahan..Selamat ya Pak.!!!mereka mengatas nama para pemuda kepuh kiriman mendirikan OG ( Orkes Gambus ) Al Amin yang dipimpinnya sendiri kemunculan OG ini tanpa diduga mendapat sambutan baik dari masyarakat Sidoarjo.
Bersamaan dengan munculnya musik gambus masyarakat juga menggemari lagu - lagu berirama melayu dan dangdut.pada era 1940 - 1950 lagu - lagu yang dinyanyikan sangat panjang.satu lagu bisa berdurasi 10 - 15 menit tergantung judul lagunya..seiring dengan itu pula muncul film - film malaya ( Malaysia ).
Sabtu, 17 November 2007
PerKeMbanGan MuSik GaMbuS
Hampir di semua
DiSurabaya sendiri, jenis musik ini telah menjadi milik masyarakat pesisir
Peralatan musik Gambus bervariasi, namun yang
Dinas Kebudayaan Surabaya mengadakan Lomba Karya Musik Gambus dan merintis pengembangan menjadi sebuah orkes, yang lebih besar, dengan menggabungkan beberapa kelompok Musik Gambus yang ada di
Namun karena beberapa hambatan teknis, hasilnya belum menggembirakan..Lagu-lagu ya ditampilkan biasanya berbahasa Arab, contohnya lagu-lagu Gambus yang pernah di jadikan lagu wajib lomba Qasidah Tingkat Nasional adalah "Lisaani Bihamdillah", "Yamalaakal Hub", "Solla Robbuna", Asyroqol Badru", dan "Syarah Dala",Yaa Rait ujar salah satu penggebuk Drum AL Amin “IcOL SpEeDs”.
Dibalik Serumpun Anom
( Cikal Bakal Al Amin ) mengalami berbagai macam hambatan.Mulai dari alat2 musik sampai dengan kurang personil yang mempunyai potensi dibidang musik, maklum karena perekrutan personil SA sendiri memang diprioritaskannya temen sekampung sehingga untuk mencari personil yang potensi tidak cukup untuk mempunyai bakat dibidang terkadang harus membina temen2 yang gak punya bakat musik tapi punya kemauan untuk bergabung di SA.
Sehingga sering kali SA harus bongkar pasang personil untuk menutupi kekurangan ditubuh SA sendiri semuanya itu terjadi karena sebab personil yang sudah terlatih dan sudah pakem membawakan lagu – lagu SA yang gak aktif lagi dikarenakan berbagai macan persoalan mulai dari pekerjaan,sekolah dan ada juga yang diperbolehkan oleh Orang Tuanya dengan berbagai pertimbangan.
Maklumlah memang personil SA semuanya masih Remaja,Sehingga perjalanan mereka kedepan untuk menggapai cita – citanya yg sangat diharapkan oleh Orang Tuanya masih panjang barangkali dengan pertimbangan itulah tak sedikit para Orang Tua Temen2 yang menghendaki anaknya keluar.
Kamis, 15 November 2007
KeJaYa'An SeRuMpun AnOm"VoLuMe 1"
arek – arek serumpun anom pun tidak mau ketinggalan untuk mengikuti ajang bergengsi tersebut mereka menyodorkan menawarkan dan mendaftarkan diri sebagai peserta yang penuh totalitas dan semangat maju dibarengi sikap optimis diri untuk menang dan berkarya dalam meng’apreasiasikan sebuah potensi diri yang belum tergali dan dimiliki dengan cara membangun psikologi mental tiap – tiap personil.
Niihlah pengalaman yang baru bagi Serumpun Anom sambut Boy sang pemetik Gitar..untuk menyalurkan hobi dan potensi bermusik mereka supaya bisa berkembang sampai soul mereka tidak mati…!!!
Minggu, 11 November 2007
True Story Of Serumpun Anom
Awal mula disebuah perkampungan yang bernama kepuh kiriman berjejer kawanan kumpulan anak muda dengan sederet,segelintir dan sekelompok pemuda - pemudi yang mempunyai obsesi yang tinggi dan berdedikasi serta mempunyai totalitas semangat yang menjulang tinggi., mereka bersama berniat bertekad berkarya untuk mengemban kepercayaan dari dalam diri dan membentuk sebuah grup band yang jarang sekali terdengar dikalangan kalayak orang banyak dan masyarakat pada umumnya.berdirinya sebuah grup band ini dilandasi masa keemasan pada tahun 1999 yang bernama “serumpun anom” grup ini identik memainkan musik beraliran etnik jawa,pujian islami jawa dan memadukan berbagai kolaborasi dengan berbagai macam – macam alat – alat musik tradisional mereka terinspirasikan untuk menggabungkan alat musik gamelan,cuk lele,tamborin,bongo,belira en terbang dan mereka mengusung unsur ritme dan beat – beat tradisional macam – macam lainnya.
mereka terdiri dari pemuda - pemudi kepuh kiriman sendiri yang digawangi oleh :
- Ð Yoyok : keybordis
- Ð Fathoni : Terbang
- Ð Maskhun : Terbang
- Ð Cupes : Gidor & Drum
- Ð Boy : Lead Gitar
- Ð Aris : Bass Gitar
- Ð Badrus : Cuk Lele
- Ð Taufik : Tamborin
- Ð Suhud : Bongo
- Ð Wahab : Symbal
- Ð Atik : Belira
- Ð Sifa : Vokal
- Ð Vida : Vokal
- Ð Selim : Vokal
- Ð Fadeli : Vokal
- Ð Bidin : Teknisi
- Ð Maskhun : Teknisi
dan kebetulan selang beberapa bulan kemudian seusai terbentuknya grup band Serumpun Anom yang mengorbitkan namanya supaya dikenal oleh semua kalangan masyarakat sejawa timur banyak melalui even – even festival salah satunya ranting IPNU AnCab Waru mengadakan kegiatan even yang berskala besar yaitu festival porseni waru yang diadakan pertengahan bulan juni tepatnya.

